Ads Top

Guru Mangaloksa, Raja Batak Dari Tapanuli Utara

jendeladunia16.blogspot.co.id - Guru Mangaloksa, Raja Batak Dari Tapanuli Utara

Guru Mangaloksa, Raja Batak Dari Tapanuli Utara


Cerita  rakyat  merupakan  karya  sastra  yang  dimiliki oleh  masing-masing  suku  bangsa. Tidak  dapat  dimungkiri kehadirannya di tengah masyarakat memberi banyak manfaat. Selain menghibur, cerita rakyat juga hadir memberi pesan  dan  contoh  positif dalam  hubungan sosial  masyarakat pemilik dan penikmatnya.  Sastra  mengajarkan  banyak  hal, ilmu pengetahuan, agama,     budi pekerti,sejarah, persahabatan,  adat  kebiasaan,  dan  lain-lain.  Melalui  sastra, kita dapat mengenal  suatu kelompok masyarakat.Dalam  upaya  memperkenalkan  budaya  ini,  salah  satu hal yang dilakukan adalah cerita   rakyat Tapanuli  Tengah ke  dalam  bahasa  Indonesia.  Hal  ini  juga  bertujuan  agar  pesan  moral  dan  adat kebiasaan  masyarakat  pemilik  cerita  dapat  dipahamioleh masyarakat,  baik di Indonesia maupun  di dunia.

Jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Opat Pusoran berada pada keturunan (sundut) kedelapan : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan -- Guru Mangaloksa—Si Opat Pusoran.

Guru Mangaloksa, Raja Batak Dari Tapanuli Utara

Si Opat Pusoran atau Si Opat Pisoran adalah sebutan untuk marga batak khusus anak-anak atau keturunan dari Guru Mangaloksa.

Guru Mangaloksa adalah salah satu keturunan Batak, yang merupakan keturunan dari Hasibuan.

Guru Mangaloksa, Raja Batak Dari Tapanuli Utara

Guru Mangaloksa adalah keturunan Hasibuan. Pada suatu hari beliau berburu ke hutan, kebetulan Guru Mangaloksa mahir menggunakan sumpit (ultop). Pas berburu, dia berhasil menyumpit seekor burung yang konon katanya sebesar kambing, namun burung tersebut tidak langsung mati, malah terbang. Guru Mangaloksa pun mengikuti burung tersebut, namun tanpa disadari, beliau sudah semakin jauh dari kampung. Ketika dia sadar, dia tidak mengenal tempat itu. Namun tiba-tiba dia melihat asap, dan beliaupun mencari tahu asal asap itu. Dan akhirnya Guru Mangaloksa sampai lah ke Silindung (Sekarang Tarutung). Ternyata kampung tersebut milik marga Pasaribu.

Pada saat itu, kampung sedang dilanda teror. Di kampung tersebut sering didatangi burung rajawali berkepala tujuh yang suka memangsa anak-anak dan hewan ternak. Sudah banyak cara yang dilakukan raja Pasaribu untuk mengusir burung tersebut, namun hasilnya sia-sia. Akhirnya Guru Mangaloksa yang pandai menggunakan sumpit dan juga sakti itu, menawarkan diri untuk membunuh burung tersebut. Dan akhirnya dia berhasil membunuh burung rajawali berkepala tujuh itu. Sebagai imbalan, raja Pasaribu memberikan salah seorang putrinya untuk dijadikan istri oleh Guru Mangaloksa.

Setelah guru Mangaloksa menikah dengan boru Pasaribu, Guru Mangaloksa berniat meminta sedikit tanah untuk bertani kepada mertuanya(Raja Pasaribu). Sehingga dia mengutus istrinya untuk mengahadap sang raja. Namun ternyata terjadi salah paham, Guru Mangaloksa meminta sedikit tanah yang oleh Raja Pasaribu diartikan berbeda. Dia pun memberikan tanah dalam tandok (tempat beras/padi) untuk dibawa boru Pasaribu ke suaminya (Guru Mangaloksa).

Guru Mangaloksa membuat seolah-olah kampung mereka sedang dikepung musuh, kemudian dia meletakkan poring (sebuah tanaman jika dipijak akan menimbulkan bunyi seperti letusan senjata). Ketika dia menyampaikan kabar bahwa kampung telah di kepung musuh, mertuanya pun panik dan berlari keluar. Tiba-tiba dia menginjak poring tadi, mertuanya mengira itu adalah suara letusan senapan (bodil) musuh. Akhirnya Guru Magaloksa berhasil mengajak mertuanya mengungsi. Sejak kejadian itu ada ungkapan dalam masyarakat batak yaitu “Pasaribu na dilele ni poring (Pasaribu yang dikejar poring)”.

Dalam perjalanan ke pengungsian bersama mertuanya, Guru Mangaloksa meminta izin kepada mertuanya untuk kembali ke kampung untuk melihat keadaan, dan mertuanya pun merestui. Dalam perjalanan, pas di tepi aek situmandi, anak pertama guru Mangaloksa pun lahir. Anak itu diberi nama Si Raja Nabarat, na barat artinya yang berlawanan. Saat itu Guru Mangaloksa menyadari perbuatannya terhadap mertua (hula-hula) bahwa itu sebenarnya bertentangan

Guru Mangaloksa, Raja Batak Dari Tapanuli Utara

Kemudian lahirlah anak kedua, yang dinamakan Si Raja Panggabean, yang artinya sejahtera. Guru Mangaloksa melihat, walaupun dia telah berbuat salah terhadap mertua (hula-hula)nya, tapi dia masih diberikan kesejahteraan (hagebeon) oleh Ompu Mulajadi Nabolon.

Adapun Marga-marga keturunan Guru Mangaloksa adalah: Si Raja Na Barat yaitu marga Hutabarat Si Raja Panggabean yaitu marga: Panggabean,Simorangkir. Si Raja Hutagalung yaitu Marga Hutagalung. Si Raja Hutatoruan yaitu marga: Hutapea, Lumbantobing (dan beberapa memakai Hutatoruan).

Keempat anak ini dikenal dengan Si Opat Pusoran. Dulunya sesama si Opat Pusoran tidak boleh saling menikahi, namun seiring perjalanan waktu, sesama si Opat Pusoran sekarang sudah bisa saling menikahi, hal itu tidak melanggar adat.

Pada kenyataannya leluhur kita adalah marga Hasibuan (Guru Mangaloksa Hasibuan). Namun anak-anak Guru Mangaloksa tidak lagi menggunakan marga Hasibuan. Tetapi kita tidak boleh mangkir, bahwa si Opat Pusoran adalah Hasibuan.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita. Mari kita jaga dan lestarikan kebudayaan, dan panorama alam kita yang sungguh luar biasa, agar anak cucu kita bisa merasakan kehindahan dan kekayaan alam kita yang begitu luar biasa di tanah Ibu Pertiwi kita ...
Salam Pariwisata...
Kekayaan Alamku...
Pesona Indonesia...
Penosa Nusantara....


Guru Mangaloksa, Raja Batak Dari Tapanuli Utara Guru Mangaloksa, Raja Batak Dari Tapanuli Utara Reviewed by adenapriscillia on Maret 26, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Related Post No.