Ads Top

Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung

jendeladunia16.blogspot.co.id - Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung


Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung

jendeladunia16.blogspot.co.id - Alam semesta diciptakan Tuhan dengan milyaran hal menakjubkan didalamnya,keindahan alam ini membuat kita begitu kaya dan terkenal di mata dunia, berkat akan pesona alam yang begitu luar biasa.Termasuk di Negara yang kita Cintai ini, dimana Negara kita ini sudah begitu terkenal tentang kekayaan alamnya. Indonesia merupakan Negara yang begitu memiliki kekayaan alam yang sungguh luar biasa, baik itu panorama alamnya, suku, budaya adat istiadat, dan ciri khas masyarakat yang berbeda di seluruh penjuru Nusantara.Keindahan alam Indonesia memang dianggap tak ada yang mampu menandingi di negara manapun di dunia.Maka dari itu tak heran jika banyak wisatawan asing yang rela datang jauh-jauh ke Indonesia untuk menikmati keindahan alam yang ada di Indonesia. Salah satunya ialah kota Tarutung Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Kita ketahui kota ini sunggyh sangat terkenal akan obyek wisata, panorama alam, dan kebudayaanya. Kali ini saya akan memperkenalkan satu Destinasi Wisata Religi yang begitu terkenal di kota tarutung, dan sudah menjadi icon kota Tarutung. Objek wisata ini dinamakan Wisata Salib kasih.


Kali ini guys saya dan teman-teman saya melanjutkan perjalanan dari medan menuju ke Tarutung yang memakan waktu kurang lebih sembilan jam, melewati wilayah Parapat, Gurgur, Silangit, Siborong-borong, Hutaraja dan Sipoholon. Satu tempat tujuan yang ingin kami datangi dalam perjalanan kami kesini adalah Obyek Wisata Rohani Salib Kasih.


Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung

Salib Kasih terletak di Desa Simorangkir, Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Dari pusat kota Tarutung menuju ke Salib Kasih hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit atau kurang lebih menempuh jarak 5 (lima) kilometer.

Setelah tiba di pintu gerbang Salib Kasih, pengunjung obyek wisata ini akan dikenakan tiket masuk, dan menempuh jalan menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai Salib Kasih yang terletak diatas bukit. Sambil menaiki tiap anak tangga yang jumlahnya cukup banyak ini, pengunjung akan disuguhi pemandangan dan suasana yang amat menyenangkan diantara pepohonan pinus di sekeliling disertai hawa udara yang sejuk dan menyegarkan, membuat perjuangan menaiki anak tangga itu tidak terasa melelahkan. Pengunjung juga dapat berhenti sejenak untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan mencapai atas bukit.

Tiba diatas bukit, pengunjung dapat melihat Salib Kasih yang tinggi menjulang setinggi 31 meter, angka ini kabarnya menunjukkan ketritunggalan Allah atau Trinitas Allah. Obyek wisata ini yang dibangun pada bulan Oktober 1992, didirikan untuk mengingat momentum bagaimana IL Nomensen, seorang misionaris berkebangsaan Jerman membawa ajaran agama Kristen Protestan ke tanah Batak karena pada masa itu, masa dimana sebagian besar orang Batak masih menganut kepercayaan animisme. Sehingga disamping terdapat sebuah Salib Kasih, yang mana Kasih merupakan dasar utama pengajaran agama Kristen, juga terdapat panggung terbuka untuk kebaktian yang bisa menampung sebanyak 600 orang, sebuah mimbar, tugu Nomensen dan juga beberapa rumah doa, yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk berdoa dengan khusuk.

Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung

Di beberapa pohon pinus yang ada, ada papan-papan yang dipaku bertuliskan ayat-ayat rohani dari Alkitab yang dapat pengunjung baca selama menaiki dan menuruni anak tangga di hutan pinus tersebut, sambil mensyukuri keagungan Tuhan dan kemurahan Nya dalam hidup kita.


Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung

Obyek wisata ini banyak mengalami perubahan dan kemajuan menurut beberapa kerabat yang pernah berkunjung kesana, taman-taman ditata dengan rapi, ada arena bermain, fasilitas kamar mandi dan tempat berjualan barang souvenir khas dari Salib Kasih, Tarutung maupun dari Sumatera Utara. Namun masalah kebersihan tetap perlu diperhatikan dan dijaga karena walau tempat pembuangan sampah telah disediakan dimana-mana, masih banyak orang membuang sampah sembarangan di pelataran parkir maupun di area penjualan souvenir.

-Sejarah Singkat Ingwer Ludwig Nommensen (Ompu Nomensen)Meyebarkan Agama Kristen Protestan Ditanah Bata.
Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu untuk melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan.

Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung
                                                                                    
 Maka tak heran, suatu kali dalam sidang zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr. Justin Sihombing yang hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah orang Batak.
Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya dalam usia 84 tahun.

Masa mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di Rheinische Missions-Gesselscha ft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun.

Sebenarnya, kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Animesme masih kuat dalam kehidupan suku Batak.

Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung

Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 30 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.

Impian Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi gembala upahan hingga umur 10 tahun.

Tapi, rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu, ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain.

Ketika dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu terkabul maka ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul, ia pun sembuh.

Pada 1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen, mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Ia pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.

Nommensen lalu mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada 1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.

Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”, dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan, dalam beberapa kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata “si bottar mata” (stereotip ini ditujukan kepada Belanda).

Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.”
Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu menemui Dr. H. N. Van der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak.

Setelah mendapatkan mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862. Dari sana ia kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga.

Di sinilah pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena sudah masukya agama Islam, ia melihat adanya nilai pluraritas antarsuku yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.

Maka, setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2 pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.

Di sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara), Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual (Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya.

Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.

Setelah berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh di Silindung: Raja Amandari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29 Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.

Setelah itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada 1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang terjadi, mereka pun menangguhkan perjalanan dan kembali ke Silindung.

Pada 1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada 1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.

Pendeta Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.

Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu” (perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir. Maka, pada 1893 Pendeta J. Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta Bregenstroth di Ambarita.

Misi zending tak berhenti sampai di sana. Nommensen lalu mengajukan permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon, Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903. Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar, Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu. Dan terus berkembang sampai sekarang.

Bagaimana, anda tertarik ?, anda bisa berkunjung ke tempat ini dengan melalui rut jalur sumatera, yaitu menujuj ke kota tarutung. Kira-kira dari medan hanya memakan waktu sekitar 7 jam atau 8 jam. Disini anda akan lebih mengetahui objek wisata Religi yang begitu indah, ditambah lagi panorama alamnya yang begitu sungguh luar biasa.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita. Mari kita jaga dan lestarikan kebudayaan, dan panorama alam kita yang sungguh luar biasa, agar anak cucu kita bisa merasakan kehindahan dan kekayaan alam kita yang begitu luar biasa di tanah Ibu Pertiwi kita ...
Salam Pariwisata.
Kekayaan Alamku.
Pesona Indonesia.
Penosa Nusantara .


Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung Wisata Kerohanian Salib Kasih Tarutung Reviewed by adenapriscillia on Februari 25, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar

Related Post No.